Sabtu, 27 September 2008

Dari yang tersisih

Agak terlambat sebenarnya memposting masalah jatuhnya korporasi besar di Amerika beberapa waktu lalu, sebenarnya postingan ini cuma copy paste dari blogku yang lain..

Memahami masalah sektor finansial tidak sesederhana menghitung satu dua tiga.. Inilah sektor modern yang memiliki peran dalam mentransformasi perekonomian dunia. Sektor ini memiliki peran seperti katalisator dalam suatu proses kimiawi.

Kejatuhan korporasi finansial yang sudah berusia tua dan besar seperti Lehman dan AIG, bisa jadi berawal dari suksesnya buku Rich Dad Poor Dad yang ditulis oleh Robert T. Kiyosaki beserta sekuel-sekuel buku sesudahnya.

Di buku tersebut dengan jelas dan lugas digambarkan bagaimana investasi merupakan multiplier untuk menambah income dan bisa dilakukan oleh setiap orang melalui berbagai macam instrumen seperti saham, properti, bursa komoditi (khususnya untuk produk pertanian) dan lain-lain. Buku yang fenomenal ini mampu mempengaruhi pola pikir orang untuk berinvestasi guna beralih cashflow kuadrannya, dari kuadran E ke kuadran I.

Mindset masyarakat (Amerika) yang terstimulus untuk berinvestasi pun bertemu dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintahnya untuk menciptakan iklim berinvestasi yang baik, terutama untuk investasi properti. Gayung pun bersambut manakala sektor swasta juga mengambil peran dalam proses tersebut. Sehingga orang berbondong-bondong berinvestasi di sektor properti ini, terlebih dengan dukungan kemudahan kredit finansial. Masalah mulai timbul ketika satu orang tidak hanya mengambil satu kredit perumahan, melainkan lebih dari satu. Hal ini disebabkan oleh mindset berinvestasi tadi ditambah kebijakan pemerintah dan distimulus oleh kemudahan dari sektor finansial. Dan sudah merupakan perilaku konsumen memiliki lebih banyak akan lebih baik (disukai). Hingga tiba di suatu titik kulminasi dimana terjadi kejenuhan dan harga properti mengalami penurunan.

Dan malapetaka itu pun terjadi, kasus subprime mortagage yang terjadi akibat jenuhnya pasar investasi di bidang properti kian diperparah oleh shock dari harga minyak dunia yang semakin membumbung tinggi. Tekanan inflasi dan biaya produksi yang tinggi membuat harga perumahan mencapai level yang rendah. APBN pemerintah Amerika yang banyak tersedot untuk perang Irak juga mengambil peran dalam kekacauan makro negara tersebut. Karena budget pemerintahannya yang cukup ketat sehingga tidak mampu mengintervensi keadaan yang sudah terlanjur terjadi, berimbas pada korporasi finansial yang membiayai kreditnya. Kelihatannya memang sulit dipercaya bagaimana mungkin suatu korporat yang besar dan berpengalaman mengalami kesulitan akibat akumulasi masalah dari berbagai sisi.

Dan ini bukan merupakan merupakan shock yang sebenarnya. Kejatuhan korporasi finansial besar ini merupakan pemicu bagi shock-shock selanjutnya. Seperti telah diketahui, jatuhnya sektor finansial akan berimbas ke sektor riil. Itulah sebabnya the Fed terus bertahan tidak menaikkan suku bunganya untuk meredam shock ini. Karena bila suku bunga the Fed dinaikkan sektor riil akan lebih parah lagi, ekonomi mengalami perlambatan dan angka pengangguran akan semakin besar. Bila sudah begini, kemiskinan akan menghadang..

Apa yang terjadi di seberang sana memiliki keterkaitan dengan perekomian Indonesia. Tidak bisa dipungkiri lagi, di era globalisasi ini setiap negara saling terkoneksi satu sama lain. Sehingga shock yang terjadi di negeri orang bisa mempengaruhi negeri sendiri.
Belajar dari kasus krisis ekonomi 97-98, kita harus lebih waspada dalam menyikapi hal ini. BI rate yang dinaikkan mungkin ditujukan untuk mengerem laju inflasi yang sudah menembus dua digit. Tetapi biaya yang dibayar untuk itu sangat mahal, karena sektor riil kita juga tertahan dan sulit berjalan mengingat aliran finansial kini tertahan di bank. Untuk itu, kita harus bersiap diri agar tidak menjadi negara yang tersisih…

Tidak ada komentar: