Akhirnya kuputuskan untuk mengganti judul blog yang sudah lama sekali itu. Bukan apa-apa, lama-lama isinya juga ga relevan sih. Jadilah blog ini lebih mirip blog curhat-curhatan ketimbang esensinya yang berbau ekonomi atau statistik.
Dalam sebuah rapat, seorang teman sempat menyatakan ketidakpuasannya atas kinerja yang dibangun oleh lembaga tempat kami bernaung. Dia bilang kondisi yang ada sekarang semakin parah dan sulit untuk diperbaiki. Berdasarkan teori motivasi, harusnya aku menghindari orang yang bersifat melemahkan seperti ini. Harusnya aku berkelompok dengan orang-orang yang punya rasa optimisme yang tinggi tanpa harus meninggalkan rasionalitasnya. Tapi entah kenapa aku bertahan dan ingin mengetahuinya lebih jauh lagi.
Aku semakin tidak mengerti kenapa waktu aku ungkapkan keinginananku untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dibilangnya nanti gap nya akan semakin terasa jauh, atau seperti berada di awang-awang (tidak membumi mungkin maksudnya). Aku terheran-heran mendengarnya. Dari sekian banyak temanku yang juga beranggapan seperti itu secara implisit, cuma dia yang blak-blakan bilang seperti itu. Dalam hati sih aku bilang pendidikan tinggi toh bukan cuma buat satu hal saja, bisa dimanfaatkan untuk hal lainnya yang who knows akan membantu kita di suatu masa nanti. Tapi aku ga bilang apa-apa, cuma terdiam.
Entah kenapa, selama ini aku selalu merasa karena aku mengeyam bangku sekolah lebih lamalah makanya aku tetap waras dan masih bisa berpikir positif dalam menyikapi berbagai hal. Suka tidak suka itu aku alami sendiri dalam kehidupan pribadi maupun lingkungan kerja. Dibilang dewasa, entah lah aku belum berani bilang seperti itu, tapi menurutku setidaknya karena aku mendapat banyak ilmu itu lah yang membuatku masih bisa berempati dengan orang lain, mensyukuri apa yang ada, dan yang terpenting tidak cepat menyerah dan mampu bergerak lebih cepat dibanding lainnya.
Mungkin temanku itu mengalami hal yang sebenarnya tidak ingin dia alami, who knows sehingga dia jadi agak negatif..