Indikator ekonomi dunia mulai menunjukkan kontraksi pada pertumbuhan ekonomi. Krisis finansial global yang dipicu dari kasus subprime mortage di Amerika yang menghantam indeks harga saham terkuat dow jones dan merembet ke bursa saham lainnya di dunia tak terkecuali Bursa Efek Indonesia.
Pemerintah sudah melakukan beberapa tindakan seperti mensuspensi BEI selama tiga hari untuk meredam gejolak akibat kepanikan pasar, melakukan penelitian terhadap perusahaan yang melakukan short selling dan meminta BUMN melakukan buy back terhadap saham-sahamnya. Hasilnya, dalam perdagangan saham belum mampu meredam sepenuhnya gejolak pasar. IHSG mengalami tren penurunan dari hari ke hari. Teori perilaku konsumen, people respond to incentive, benar-benar terjadi dan sangat berlaku dalam kondisi ini.
Namun indikator ekonomi tidak hanya IHSG, beberapa indikator makro ekonomi seperti nilai tukar, inflasi, harga minyak mentah dunia dan pertumbuhan ekonomi juga perlu diperhatikan. Keputusan RDG Bank Indonesia untuk menaikkan BI rate menjadi 9,5 persen dianggap kebijakan yang kurang tepat di tengah krisis oleh beberapa ekonom, terutama di kalangan non monetaris. Alasan utamanya adalah terhambatnya sektor riil akibat suku bunga yang tinggi. Walaupun BI sendiri memiliki alasan untuk mengerem laju inflasi yang sudah menembus dua digit.
Kekhawatiran pasar akibat krisis finansial global juga berdampak pada harga minyak mentah yang turun secara gradual. Ini menunjukkan bahwa selama ini kenaikan harga minyak mentah dunia yang fantastis merupakan ulah spekulan pasar, bukan karena kelangkaan.
Beberapa ekonom mengatakan kekhawatiran BI akan laju inflasi yang terus meningkat merupakan sesuatu yang tidak perlu karena harga komoditas utama (yang sering menjadi trigger inflasi) mengalami tren penurunan. Apakah fokus BI pada Inflation Targeting Framework dianggap tidak relevan dalam kondisi ini? Pemikiran seperti ini lebih mendekati pada mekanisme persaingan pasar sempurna.
Kesulitan likuiditas akibat kondisi finansial global merupakan hal yang paling menakutkan pada sektor finansial di semua negara. Rush yang terjadi di Amerika seperti yang terjadi di Indonesia sepuluh tahun yang lalu menyebabkan bank kesulitan likuiditas. Itulah sebabnya mengapa pemerintah dianggap perlu menjamin uang yang ada di bank untuk memulihkan kepercayaan masyarakat yang memiliki tabungan di bank.
Lalu, apa hikmah yang bisa diambil dari krisis finansial global ini? Pertama, keserakahan hanya akan menimbulkan kesengsaraan. Keserakahan masyarakat untuk berinvestasi dengan mengharapkan return di kemudian hari tanpa mempertimbangkan kemampuan berinvestasinya menghasilkan kredit macet yang dikenal subprime mortage yang merupakan cikal bakal krisis finansial. Keserakan juga yang menyebabkan harga minyak mentah dunia melambung tinggi sehingga meningkatkan biaya produksi dan menyebabkan kenaikan harga yang pada akhirnya melambungkan angka inflasi. Keserakahan pula yang menyebabkan perdagangan bursa saham di berbagai belahan bumi menjadi chaos. Dan bukankah akibat keserakahan juga yang membuat nabi Adam dikeluarkan dari surga?
Kedua, format ekonomi liberal bukan merupakan format ekonomi yang baik. Ekonomi liberal yang tidak memiliki aturan baku banyak melahirkan spekulan-spekulan yang merusak pasar. Harus ada regulasi yang mengatur semuanya, namun tidak sangat terbatas seperti pada ekonomi sosialis. Format ekonomi sosialis (komunis) telah hancur di era Gorbachev, kini ekonomi liberal. Format ekonomi yang terlalu bebas atau yang terlalu diatur bukan jenis format yang baik. Segala sesuatu yang berlebihan (terlalu) pasti akan mendatangkan kemudharatan.